Pada Senin, 5 Januari lalu, salah satu peneliti PACIS UNPAR, Kishino Bawono, diwawancarai oleh KompasTV terkait serangan dan penculikan Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela oleh Pemerintahan Trump di Amerika Serikat. Dalam wawancara tersebut, Kishino memaparkan beberapa hal. Dari poin-poin yang diungkapkan, ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai highlights – beserta penjelasan tambahannya yang tidak sempat terungkap dalam wawancara.
Berikut adalah highlight pemikiran-pemikiran Kishino Bawono tersebut.
Upredictability Rezim Trump
Pertama, serangan dan penculikan ini masih bagian dari unpredictability dari rezim Trump dan karakter individualnya. Ini mengingat bahwa intervensi militer langsung oleh AS di dunia, terakhir terjadi pada era Perang Irak 2003, yang menggulingkan rezim Saddam Hussein dan meninggalkan perang belasan tahun setelahnya.
Sebagai konteks, intervensi dan penggantian rezim di negara lain – baik melalui operasi intelejen dari CIA, intervensi militer, atau dukungan dari pemerintah AS – merupakan modus operandi rutin dari AS selama beberapa dekade terakhir, terutama sangat terlihat di era Perang Dingin, misal Mohammad Mossadegh dari Iran, Manuel Noriega dari Panama, Gustavo Pinochet dari Cile, Jean-Bertrand Aristide dari Haiti, Ngo Dinh Diem dari Vietnam Selatan (ketika Vietnam masih terbagi menjadi utara dan selatan), Patrice Lumumba dari Republik Demokratik Kongo, dan lainnya.
Pada rezim-rezim lainnya yang disebutkan, konteks Perang Dingin-nya dan persepsi kepentingan yang melandasi kebijakan luar negeri intervensionis ini masih dapat dirasionalisasi dengan kepentingan nasional dari pemerintah AS secara umum. Namun, pada rezim Trump, kepentingan AS nampaknya tidak terlalu nampak. Beberapa ahli menilai bahwa Presiden Trump ketika menggerakkan kebijakan luar negeri AS tidak selalu memikirkan kepentingan nasional AS, malah mengedepankan keuntungan pribadi atau lingkaran kekuasaannya.
Artinya, cara-cara memahami pemerintahan AS pada rezim-rezim sebelumnya, pada konteks-konteks periode sebelumnya, harus diubah untuk bisa memahami pola Presiden Trump dan pemerintahannya. Ini yang membuat rezim Trump menjadi lebih sulit ditebak karena kepentingan yang dikedepankan dapat berubah-ubah, sesuai keinginan atau kebutuhan Trump.
Strategi Distraksi ala Trump
Mengapa aksi pencuilikan dilakukan oleh Pemerintahan Presiden Trump? Selain sedang mengeliminasi rezim yang dianggap sebagai ‘rezim yang bermusuhan’ dengan AS – karena Maduro melanjutkan kebijakan Hugo Chavez yang tidak terlalu kooperatif dengan AS, AS sedang menunjukkan distraksi masalah domestiknya dengan membuat berita pengalih di tingkat internasional.
Dalam hal ekonomi, kenaikan harga-harga barang konsumsi domestik di AS menyebabkan rezim Partai Republikan ini berkurang popularitasnya. Ini menjadi poin penting karena tahun 2026 ini adalah tahun pemilu sela di AS yang jika Republikan tidak populer, akan mengganggu dominasi Presiden Trump dan Republikan atas fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif AS.
Dalam hal hukum dan politik, kasus dugaan keterlibatan Presiden Trump dengan dua kasus kriminal besar nampaknya makin memuncak. Ia diduga terlibat dalam jaringan perdagangan manusia yang dilakukan oleh Jeffrey Epstein. Selain itu, dugaan keterlibatan ini diduga pula ingin dikubur atau ditutup-tutupi oleh FBI dan Department of Justice atas perintah Trump, yang mana juga merupakan skandal dan dugaan pelanggaran hukum AS.
Kasus kedua adalah dugaan keterlibatannya dalam upaya makar dalam kejadian 6 Januari 2021, dimana ada massa pro-Trump yang menyerang Gedung Capitol dan sempat kemudian ada korban jiwa dan kerusakan. Massa tersebut diduga mendapatkan fasilitasi dari tim Trump dengan bukti transaksi pengiriman uang untuk pembelian tiket/transportasi ke Washington D.C. dan penginapan untuk para anggota massa ini menginap selama periode protes.
Wawancara lengkap Kishino Bawono dengan KompasTV dapat dilihat di: https://www.youtube.com/watch?v=wetyKBxgmUw

