Bandung, 12 Januari 2026 — Parahyangan Center for International Studies (PACIS) Universitas Katolik Parahyangan merespons diskusi akademik bersama dengan Marcelino, koresponden O Globo, surat kabar harian terbesar di Brasil, dengan menyoroti meningkatnya kekhawatiran global terhadap arah politik internasional pasca tindakan Amerika Serikat di Venezuela. Diskusi ini berangkat dari refleksi atas Semangat Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, khususnya prinsip nonblok, yang dinilai tengah menghadapi tantangan serius dalam dinamika geopolitik kontemporer.
Para peneliti PACIS yang hadir ialah Yulius P Hermawan, Albertus Irawan, Kishino Bawono, Idil Syawfi, dan Rizky Widian.
Para peneliti menilai bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menunjukkan kecenderungan unilateral yang semakin kuat, ditandai oleh intervensi langsung, tekanan ekonomi, serta pengabaian terhadap norma dan institusi multilateral. Perkembangan ini memunculkan persepsi bahwa tatanan internasional bergerak ke arah “hukum rimba”, di mana kekuatan militer dan ekonomi menjadi faktor penentu utama, sementara norma dan hukum internasional semakin terpinggirkan.
Dalam konteks tersebut, negara-negara di berbagai kawasan merespons secara beragam. Di Eropa, muncul kecenderungan untuk memperkuat koordinasi keamanan guna mencegah kejadian serupa terjadi di wilayah mereka. Sementara itu, negara-negara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, cenderung tidak ingin dipaksa memilih satu kubu. Alih-alih beraliansi secara kaku, strategi yang paling realistis adalah hedging, yaknii menjaga hubungan keamanan dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan ketergantungan ekonomi dan perdagangan dengan Tiongkok.
Pendekatan ini didorong oleh kebutuhan domestik yang konkret. Tiongkok merupakan mitra dagang utama dan pemasok penting bagi rantai pasok industri, sementara Amerika Serikat tetap menjadi pasar ekspor strategis serta aktor kunci dalam keseimbangan keamanan kawasan. Ketegangan antara kedua kekuatan besar tersebut berpotensi berdampak langsung pada stabilitas ekonomi negara-negara Asia Tenggara.
Diskusi juga menyoroti melemahnya multilateralism sebagai fondasi utama bagi keberlangsungan non-alignment. Penarikan diri Amerika Serikat dari berbagai organisasi internasional, berkurangnya komitmen terhadap perjanjian global, serta meningkatnya kebijakan sepihak dipandang sebagai ancaman serius bagi tatanan internasional berbasis aturan. Hal ini dinilai akan dapat mempersempit ruang bagi negara-negara berkembang untuk menyuarakan kepentingannya secara kolektif.
Mengenai relevansi Semangat Bandung, para peneliti menilai bahwa konteks global telah berubah secara signifikan dibandingkan era Perang Dingin. Absennya solidaritas kuat di antara negara-negara Global South, perbedaan kepentingan nasional yang semakin tajam, serta ketiadaan figur kepemimpinan kuat, membuat kebangkitan kembali semangat Bandung menghadapi hambatan struktural. Inisiatif seperti BRICS dipandang belum mampu sepenuhnya merepresentasikan kepentingan kolektif Global South karena tingginya fragmentasi dan konflik kepentingan internal.
Diskusi juga mengulas posisi Amerika Serikat dalam sistem internasional saat ini. Para pembicara sepakat bahwa Amerika Serikat masih merupakan satu-satunya superpower global, meskipun menunjukkan tanda-tanda penurunan relatif. Dunia saat ini dinilai berada dalam kondisi “one-and-a-half unipolar system”, di mana Amerika Serikat tetap dominan, sementara kekuatan lain seperti Tiongkok dan Rusia belum sepenuhnya mampu menandingi pengaruhnya, terutama dalam dimensi militer dan pembentukan tatanan internasional.
Namun demikian, dominasi tersebut juga disertai dengan kerentanan internal, mulai dari polarisasi politik domestik, tekanan ekonomi, hingga kelelahan strategis akibat keterlibatan global yang berkepanjangan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kebijakan luar negeri yang semakin agresif justru menjadi refleksi dari kecemasan terhadap potensi penurunan posisi global Amerika Serikat.
Menutup diskusi, para peneliti menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat di Venezuela berpotensi menciptakan efek jangka panjang, termasuk meningkatnya kecenderungan perlombaan senjata dan dorongan bagi negara-negara lain untuk memperkuat kapasitas pertahanannya. Di Asia, kekhawatiran tersebut diperparah oleh kedekatan geografis dengan Tiongkok dan sengketa keamanan yang belum terselesaikan, terutama di Laut Cina Selatan. Dalam situasi ini, Semangat Bandung sulit direplikasi dalam bentuk aslinya, nilai-nilai dasarnya tetap menjadi referensi penting bagi negara-negara Global South dalam menavigasi dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Penulis: Nazwa
Dokumentasi:



