Penulis: Amber Chen (6092503010)
Peningkatan pembatasan impor mineral oleh Tiongkok terhadap Jepang bulan ini menyoroti potensi kerentanan geostrategis yang ada. Mineral kritis memainkan peran sentral dalam keamanan ekonomi, daya saing industri, dan ketahanan geopolitik. Dari kendaraan listrik hingga sistem energi terbarukan, dari semikonduktor hingga platform pertahanan canggih, material seperti litium, nikel, kobalt, dan unsur tanah jarang sangat diperlukan. Dengan semakin intensifnya persaingan global untuk mineral kritis, Asia Tenggara berada di persimpangan jalan. Seiring dengan meningkatnya permintaan litium, nikel, kobalt, dan unsur tanah jarang sebagai respons terhadap transisi energi global, ASEAN memiliki kesempatan untuk memposisikan diri sebagai pemasok mineral kritis yang andal dan berbasis aturan. Namun, untuk melakukan hal tersebut, diperlukan keterlibatan yang lebih dalam dan strategis dengan mitra tepercaya, khususnya Australia.
Mineral kritis kini menjadi jantung keamanan ekonomi, daya saing industri, dan ketahanan geopolitik. Mineral-mineral ini merupakan input penting untuk kendaraan listrik, sistem energi terbarukan, semikonduktor, dan teknologi pertahanan canggih. Namun, rantai pasokan global untuk mineral-mineral ini tetap sangat terkonsentrasi, sehingga negara-negara rentan terhadap volatilitas harga, gangguan pasokan, dan tekanan geopolitik. Dominasi Tiongkok dalam pemurnian dan pengolahan mineral kritis menggambarkan kerentanan ini. Meskipun Tiongkok tidak selalu memimpin dalam produksi pertambangan, negara ini mengendalikan sebagian besar kapasitas pengolahan hilir, khususnya untuk unsur tanah jarang, grafit, dan bahan kimia kelas baterai. Laporan Global Critical Minerals Outlook 2025 menunjukkan bahwa Tiongkok adalah pemurni terkemuka dengan pangsa pasar rata-rata 70% untuk 19 dari 20 mineral strategis penting, dan hal ini semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi ASEAN, konsentrasi ini menghadirkan risiko sekaligus peluang strategis. Di satu sisi, ketergantungan yang berlebihan pada satu pemain dominan melemahkan ketahanan rantai pasokan dan mengekspos perekonomian ASEAN terhadap guncangan eksternal. Di sisi lain, peran ASEAN yang semakin meningkat dalam ekstraksi mineral penting memposisikan kawasan ini sebagai kekuatan penstabil potensial di pasar global, yaitu jika dapat secara kredibel menunjukkan keandalan, keberlanjutan, dan koherensi kebijakan. ASEAN juga memimpin produksi global untuk nikel (63%) dan timah (42%), dengan Indonesia sendiri yang telah memperluas produksi menjadi 2,2 juta ton per tahun, menjadikannya produsen nikel terbesar di dunia. Filipina juga merupakan kontributor penting, memasok nikel dan material terkait yang sangat penting untuk pembuatan baterai. Selain nikel, negara-negara ASEAN memiliki cadangan timah, bauksit, dan, semakin meningkat, unsur tanah jarang yang signifikan.
Namun, ekspansi yang pesat ini bukannya tanpa biaya. Di beberapa negara ASEAN, penegakan peraturan yang lemah telah memungkinkan terjadinya penambangan tanpa regulasi dan degradasi lingkungan, yang merugikan masyarakat setempat dan mengikis kepercayaan investor. Seiring dengan meningkatnya permintaan pembeli global akan mineral yang memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), daya saing jangka panjang ASEAN tidak hanya bergantung pada volume, tetapi juga pada kredibilitas.
Di sinilah Australia menjadi mitra alami. Australia diberkahi dengan beberapa cadangan mineral kritis terbesar di dunia, dengan Geoscience Australia menemukan bahwa negara ini berada di peringkat lima besar produsen 14 mineral dan logam, tujuh di antaranya diklasifikasikan sebagai kritis dan dua sebagai strategis. Namun, Australia menghadapi kendala strukturalnya sendiri. Terlepas dari kekayaan sumber dayanya, sebagian besar hasil mineral kritis Australia diekspor sebagai bahan mentah atau yang diproses minimal. Pemrosesan hilir, seperti pemurnian bijih menjadi bahan kimia kelas baterai atau komponen canggih, sebagian besar masih dilakukan di luar negeri. Meskipun inisiatif Future Made in Australia dari pemerintah Australia bertujuan untuk memperluas kapasitas pemrosesan domestik dan mengurangi risiko rantai pasokan global, upaya ini masih dalam tahap awal. Tantangan bersama berupa sumber daya yang melimpah tetapi integrasi hilir yang terbatas menciptakan alasan yang kuat untuk kolaborasi ASEAN–Australia.
Bersama-sama, ASEAN dan Australia dapat membangun rantai pasokan mineral penting yang lebih tangguh, terdiversifikasi, dan berkelanjutan yang mengurangi ketergantungan pada dominasi satu negara. Basis ekstraksi dan pemurnian ASEAN yang berkembang serta modal, keahlian teknis, dan pengalaman regulasi Australia sangat saling melengkapi. Alih-alih bersaing untuk investasi atau menggunakan kontrol ekspor sepihak, kedua pihak akan memperoleh keuntungan dari pengembangan rantai nilai yang terkoordinasi.
Namun, hingga saat ini, kerja sama mineral kritis antara ASEAN dan Australia masih sangat terbatas. Australia memprioritaskan kemitraan dengan Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, India, dan Kanada melalui perjanjian bilateral dan kerangka kerja multilateral seperti Kerangka Kerja Amerika Serikat-Australia untuk Mengamankan Pasokan dalam Penambangan dan Pengolahan Mineral Kritis dan Logam Tanah Langka. Australia sering mengabaikan ASEAN sebagai mitra mineral kritis. Dengan proyeksi Badan Energi Internasional bahwa permintaan lithium, grafit, dan nikel dapat meningkat beberapa kali lipat pada tahun 2040 seiring dengan peningkatan penggunaan kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan secara global, dan meningkatnya konsentrasi kapasitas pengolahan meningkatkan risiko hambatan, gangguan perdagangan, dan tekanan geopolitik, maka keterlibatan yang lebih besar antara ASEAN dan Australia di bidang mineral kritis sangatlah penting.
Kemitraan yang lebih strategis harus dimulai dengan tiga prioritas:
Pertama, ASEAN dan Australia harus membentuk mekanisme kerja sama mineral kritis formal yang tertanam dalam kerangka ekonomi dan strategis yang ada. Hal ini akan menyediakan platform untuk koordinasi kebijakan, berbagi data, dan penyelarasan investasi, sekaligus menandakan komitmen jangka panjang terhadap pasar global.
Kedua, kedua belah pihak harus bersama-sama berinvestasi dalam kapasitas pengolahan dan pemurnian hilir. Negara-negara ASEAN seperti Indonesia telah menggunakan pembatasan ekspor untuk mendorong penambahan nilai domestik. Australia, melalui insentif pajak yang ditargetkan dan kebijakan industri, juga berupaya untuk meningkatkan nilai tambah dalam rantai pasokan. Investasi yang terkoordinasi, alih-alih strategi nasional yang terfragmentasi, akan mengurangi duplikasi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat rantai pasokan regional.
Ketiga, kerja sama harus memprioritaskan tata kelola lingkungan, pengembangan tenaga kerja, dan transfer teknologi. Keahlian Australia dalam regulasi lingkungan, rehabilitasi tambang, dan tata kelola yang transparan dapat membantu produsen ASEAN memenuhi ekspektasi ESG yang meningkat. Pada gilirannya, skala ASEAN dan kedekatannya dengan pusat-pusat manufaktur dapat mendukung ambisi Australia untuk berpartisipasi lebih bermakna dalam rantai pasokan baterai dan energi bersih.
Yang terpenting, kerja sama ini harus didasarkan pada kepercayaan. Bagi negara-negara ASEAN, mineral penting bukan sekadar komoditas; mineral tersebut merupakan aset strategis yang terkait dengan tujuan pembangunan, kebijakan industri, dan kedaulatan nasional. Australia, sebagai mitra regional dan kekuatan menengah yang telah lama berperan, berada pada posisi yang tepat untuk terlibat dalam hal ini, tetapi hanya jika Australia mendengarkan sebanyak ia memimpin.
Dengan memperdalam kerja sama, baik ASEAN maupun Australia dapat meningkatkan ketahanan ekonomi, mendukung transisi energi global, dan memperkuat Indo-Pasifik yang stabil dan makmur.
Referensi:
Reference:
Australia and Canada Deepen Critical Minerals Collaboration (https://www.minister.industry.gov.au/ministers/king/media-releases/australia-and-canada-deepen -critical-minerals-collaboration)
Australian Government Response: Driving Advanced Manufacturing in Australia – Inquiry and Report (https://www.industry.gov.au/publications/australian-government-response-driving-advanced-m anufacturing-australia-inquiry-and-report)
Cooperate, Not Compete: ASEAN’s Critical Mineral Strategy for the Energy Transition (https://www.eria.org/news-and-views/cooperate–not-compete–asean-s-critical-mineral-strategy -for-energy-transition)
Global Critical Minerals Outlook 2025 (https://www.iea.org/reports/global-critical-minerals-outlook-2025)
Navigating ASEAN’s critical materials future: Opportunities, risks and strategic imperatives (https://link.springer.com/article/10.1007/s13563-025-00553-3)
Nickel Production by Country (https://worldpopulationreview.com/country-rankings/nickel-production-by-country)
The Clean Energy Paradox: Can ASEAN Reconcile Nickel Mining with Biodiversity Protection? (https://accept.aseanenergy.org/the-clean-energy-paradox-can-asean-reconcile-nickel-mining-wit h-biodiversity-protection)
United States–Australia Framework for Securing Supply of Critical Minerals and Rare Earths (https://www.industry.gov.au/publications/united-states-australia-framework-securing-supply-mi ning-and-processing-critical-minerals-and-rare-earths)
World Rankings – Australia’s Identified Mineral Resources 2024 (https://www.ga.gov.au/aimr2024/world-rankings)
