Memahami Rivalitas Global : Persaingan Kekuatan Besar dan Tantangan Multilateralisme

Bandung, 15 Januari 2026 — Parahyangan Center for International Studies (PACIS), Universitas Katolik Parahyangan, menyelenggarakan diskusi akademik bersama Prof. T. V. Paul, Distinguished James McGill Professor pada Department of Political Science, McGill University, Montreal, Kanada. Prof. T. V. Paul dikenal luas melalui kepakaran dan pengalaman akademiknya di keamanan internasional, perang dan konflik, serta studi India dan Asia Selatan. Diskusi ini dihadiri oleh para peneliti PACIS UNPAR dan mahasiswa.

Diskusi menyoroti bahwa persaingan global saat ini tidak lagi didominasi oleh konflik militer terbuka, melainkan semakin bergeser ke ranah ekonomi, teknologi, institusi internasional, serta pengaruh politik. Dinamika tersebut kerap dipahami sebagai bentuk “Perang Dingin Baru” dengan karakter yang lebih kompleks dan saling terhubung.

Dalam pemaparannya, Prof. T.V. Paul menegaskan bahwa perilaku negara-negara besar tidak dapat dijelaskan semata-mata melalui pertimbangan keamanan atau kekuatan militer. Terdapat faktor psikologis yang kuat, yakni kecemasan akan kehilangan status dan pengaruh global. Negara-negara besar berupaya mempertahankan posisi istimewanya di tengah kebangkitan ekonomi negara-negara berkembang. Dari sudut pandang ini, kebijakan unilateralisme dan langkah-langkah keras Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dipahami sebagai respons terhadap kekhawatiran penurunan pengaruh global, bukan semata strategi rasional jangka panjang.

Berbeda dengan Perang Dingin klasik, rivalitas  saat ini terjadi di tengah saling ketergantungan ekonomi yang tinggi, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Upaya pembatasan perdagangan, teknologi, dan investasi dinilai berisiko merusak sistem global yang selama ini menopang pertumbuhan bersama. Sementara itu, Rusia dipandang merepresentasikan bentuk paling keras dari logika kekuatan besar, di mana penggunaan kekerasan terhadap negara yang lebih lemah, seperti Ukraina, berkaitan erat dengan upaya mempertahankan wilayah pengaruh, status, dan legitimasi dalam politik internasional.

Diskusi ini juga menempatkan situasi global dalam perspektif historis, dengan menekankan pertarungan berkelanjutan antara kepentingan kekuatan besar dan prinsip kedaulatan negara. Tatanan internasional pasca-1945 yang dirancang untuk menjaga keseimbangan dinilai tengah menghadapi tekanan serius, seiring melemahnya komitmen negara-negara besar terhadap multilateralisme dan norma bersama.

Dalam konteks Global South, para peserta diskusi menyoroti bahwa negara-negara berkembang kini berada pada posisi yang relatif lebih kuat dibandingkan dekade sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi, diversifikasi mitra kerja sama, serta penguatan kapasitas domestik membuka ruang kemandirian yang lebih luas. Namun demikian, perkembangan ini juga menghadirkan tantangan baru, termasuk potensi pembatasan dari kekuatan besar dan risiko terbentuknya tatanan dunia yang semakin didominasi oleh segelintir negara.

Pada tingkat kawasan, ASEAN dinilai tetap relevan meskipun kerap dipersepsikan lamban dan memiliki keterbatasan. ASEAN dipandang sebagai instrumen penting bagi negara-negara anggotanya untuk menjaga keseimbangan, menghindari ketergantungan pada satu kekuatan besar, serta mempertahankan ruang negosiasi dan otonomi strategis. Strategi “hedging” dinilai masih dapat dilakukan, meskipun tekanannya semakin meningkat.

Diskusi ini juga menekankan pentingnya mempertahankan institusi global seperti G20 dan BRICS. Di tengah menurunnya komitmen sebagian negara besar terhadap multilateralisme, forum-forum tersebut justru menjadi ruang strategis bagi negara non-kekuatan besar untuk tetap menyuarakan kepentingannya. Melemahnya institusi-institusi ini dinilai dapat meningkatkan kerentanan negara-negara kecil dan menengah terhadap tekanan sepihak.

Diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa dunia saat ini berada dalam fase transisi yang panjang dan penuh ketidakpastian. Bagi Indonesia dan negara-negara Global South, tantangan utama ke depan bukanlah memilih pihak dalam rivalitas kekuatan besar, melainkan menjaga ruang kemandirian melalui diplomasi aktif, penguatan kerja sama regional, serta komitmen berkelanjutan terhadap multilateralisme yang inklusif dan pragmatis.

Penulis: Nazwa

Dokumentasi: