Bandung, 22 November 2025 — Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) melalui HMPSHI bekerja sama dengan Pusat Studi Hubungan Internasional (PACIS) Unpar menyelenggarakan kegiatan Defense Diplomacy 4.0 bertema “Shaping Global Power Through Strategic Industry.” Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian akademik Proyek Ekonomi, Diplomasi, Komunikasi, dan Politik, sekaligus pra-event menuju International Conference on International Relations (ICON-IR) 2026. Program ini dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara industri pertahanan, diplomasi strategis, dan visi Indonesia Emas 2045.
Kegiatan berlangsung secara luring di Ruang Audio Visual, FISIP Unpar, dengan menghadirkan tiga praktisi industri pertahanan, yaitu Bapak Moh. Arif Faisal (Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan – PT Dirgantara Indonesia), Bapak Samuel Zefanya (Export Sales Marketing Manager – PT Pindad), dan Bapak Ikhfan Ammar Rangkuti (Technical Manager of Satelit Pertahanan Project – PT Len Industri). Diskusi tersebut juga menghadirkan Ibu Meyta Saraswaty Putri, dosen Hubungan Internasional Unpar yang memiliki pengalaman profesional sebagai Head of Marketing Strategy for Aircraft and Aerostructure di PT Dirgantara Indonesia sebagai narasumber. Dipandu oleh Ibu Ratih Indraswari selaku moderator, diskusi ini fokus pada membahas keterkaitan antara dinamika geopolitik global, tata kelola industri pertahanan nasional, dan strategi Indonesia dalam membangun kemandirian teknologi melalui instrumen diplomasi pertahanan.
Industri Dirgantara dalam Diplomasi Pertahanan dan Agenda Kemandirian Teknologi Nasional
Sesi pemaparan pertama disampaikan oleh Bapak Moh. Arif Faisal, Director of Business, Technology, and Development PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam paparannya, beliau menekankan peran PTDI sebagai salah satu pilar utama industri pertahanan Indonesia yang mengembangkan sistem dirgantara secara menyeluruh, mulai dari rancang bangun pesawat, produksi aerostruktur, hingga layanan pemeliharaan, perbaikan, dan modernisasi (MRO). Kapabilitas ini menjadikan PTDI bukan hanya produsen alutsista, tetapi juga aktor strategis dalam diplomasi pertahanan Indonesia.
Dalam paparannya, Bapak Arif Faisal menjelaskan bahwa penguatan industri pertahanan sangat bergantung pada skema kerja sama internasional yang disertai transfer teknologi. Melalui kewajiban Imbal Dagang, Kandungan Lokal, dan Offset (IDKLO), setiap akuisisi alutsista dari luar negeri harus memberikan nilai tambah bagi industri nasional. PTDI juga berpartisipasi dalam proyek joint development, seperti program pesawat tempur bersama Korea Aerospace Industries (KAI) dan rencana kolaborasi drone dengan Turki, yang memungkinkan proses alih teknologi berlangsung sejak tahap desain hingga pengujian.
Untuk memperluas basis teknologi domestik, PTDI membangun ekosistem inovasi melalui kolaborasi dengan platform seperti INACOM, perguruan tinggi, lembaga riset, BRIN, dan Balitbang. Sinergi ini diharapkan memastikan bahwa kompetensi yang diperoleh dari kerja sama internasional dapat diinternalisasi dan dikembangkan secara berkelanjutan. Namun demikian, Bapak Arif Faisal menekankan bahwa percepatan inovasi nasional masih terhambat oleh ketidakkonsistenan implementasi kebijakan offset, terbatasnya pendanaan riset jangka panjang, serta belum optimalnya komitmen pemerintah dalam penyerapan produk dalam negeri.
Penguatan Industri Pertahanan untuk Kemandirian Nasional
Pemaparan kedua disampaikan oleh Bapak Samuel Zefannya, Export Sales Marketing Manager PT Pindad. Beliau menekankan bahwa diplomasi pertahanan tidak semata-mata berkaitan dengan operasi militer, tetapi juga mencakup aktivitas industri yang memiliki dampak strategis jangka panjang, mulai dari ekspor amunisi, hibah alutsista, kolaborasi riset, pengembangan produk bersama (co-production), hingga latihan gabungan yang melibatkan transfer keterampilan dan interoperabilitas antarnegara.
PT Pindad, yang kini mengekspor amunisi hingga ke Amerika Serikat dan sejumlah negara Asia, memandang diplomasi industri sebagai sarana meningkatkan kepercayaan internasional terhadap kemampuan pertahanan Indonesia. Menurut Bapak Samuel, setiap kontrak ekspor pada dasarnya merupakan bentuk statecraft, karena menempatkan Indonesia sebagai reliable defense partner dalam arsitektur keamanan kawasan. Di sisi lain, ilmu hubungan internasional menjadi kunci untuk memahami dinamika geopolitik, memetakan kebutuhan negara mitra, dan menavigasi peluang kerja sama, termasuk memaksimalkan jaringan diplomatik Indonesia di luar negeri untuk membuka pasar baru.
Dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, Bapak Samuel menegaskan bahwa penguatan ekosistem pertahanan nasional adalah fondasi kemandirian industri. Hal ini mencakup modernisasi teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan rantai pasok komponen strategis di dalam negeri. Dengan memperluas kerja sama internasional, mengembangkan kemampuan dual-use technology, dan membangun jejaring produksi lintas negara, Indonesia berpeluang memperkokoh posisinya dalam rantai pasok pertahanan global serta meningkatkan daya tawar dalam diplomasi keamanan di tingkat regional maupun internasional.
Strategi Indonesia Membangun Kedaulatan Teknologi Pertahanan
Pemaparan ketiga disampaikan oleh Ikhfan Ammar Rangkuti, Technical Manager untuk Proyek Satelit Pertahanan di PT Len Industri. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa critical systems, mulai dari radar, avionik, sistem komunikasi militer, hingga satelit, merupakan komponen strategis yang tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pasokan atau kontrol negara lain. Ketergantungan terhadap teknologi asing dalam bidang-bidang kritikal berpotensi menciptakan strategic vulnerability, terutama ketika konflik atau tensi geopolitik meningkat dan negara pemasok dapat menunda, membatasi, atau bahkan menghentikan akses teknologi tersebut.
Sebagai integrator sistem pertahanan, PT Len Industri berfokus mengembangkan teknologi kritis yang tidak hanya memperkuat postur pertahanan, tetapi juga memiliki manfaat luas bagi sektor sipil. Teknologi satelit misalnya, berperan penting dalam pemantauan wilayah, mitigasi bencana, peningkatan layanan transportasi, energi, hingga keamanan publik. Pendekatan dual-use technology ini menunjukkan bahwa investasi pada teknologi pertahanan memberikan spillover effect besar bagi ekosistem pembangunan nasional.
Menurut Pak Ikhfan percepatan kemandirian teknologi pertahanan membutuhkan dukungan negara yang konsisten, mulai dari kepastian penyerapan produk, stabilitas regulasi, pembiayaan jangka panjang, hingga keberlanjutan pendanaan riset. Beliau menekankan bahwa kemajuan industri pertahanan tidak bisa dicapai secara terpisah; diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, dan sektor swasta untuk membangun ekosistem inovasi yang kuat. Sinergi ini menjadi fondasi utama bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian teknologi pertahanan dan memperkuat posisinya dalam persaingan strategis global.
Industri sebagai Wajah Diplomasi Pertahanan Indonesia
Paparan terakhir, Ibu Meyta Saraswaty Putri menjelaskan bahwa industri pertahanan memainkan peran penting sebagai wajah diplomasi Indonesia. Pembelian alutsista tidak hanya dipahami sebagai transaksi jual-beli, tetapi sebagai bentuk komitmen diplomatik jangka panjang antara negara pembeli dan negara produsen. Hal ini menciptakan lock-in effect selama 30 hingga 50 tahun, karena setiap pembelian alutsista selalu diikuti kebutuhan pelatihan, suku cadang, pemeliharaan, dan peningkatan teknologi. Dalam banyak kasus, hubungan ini terus berlanjut lewat transfer teknologi, kerja sama riset, dan kolaborasi pemeliharaan membuat negara pembeli terhubung secara strategis dengan produsen dalam jangka panjang.
Selanjutnya, Ibu Meyta menekankan bahwa produk industri pertahanan Indonesia memiliki nilai strategis karena bersifat dual-use technology, yaitu teknologi yang dapat dipakai untuk kepentingan militer maupun sipil. Teknologi avionik dan radar dari LEN maupun pesawat PTDI dapat dimanfaatkan untuk pemantauan bencana, patroli laut, serta pengawasan perbatasan. Teknologi maritim dari PAL mendukung kapal riset dan kapal rumah sakit, sementara Pindad mengembangkan solusi keamanan siber yang memperkuat keamanan digital nasional. Dengan demikian, industri pertahanan berkontribusi pada human security ecosystem, bukan hanya kapasitas militer.
Dokumentasi :


Penulis : Nazwa

